Loka Festival of Contemporary Arts 2017

Ayu Permata Dance Company “Ekam Jamo Sekam”

Seberapa dalam kamu mengenal sisi gelap di dalam dirimu? Apakah kamu menerimanya apa adanya? Apakah kamu memperbolehkannya terlihat oleh dunia? Bagaimana ia memengaruhi orang lain dan dunia?

Pertanyaan-pertanyaan reflektif itu muncul saat menyaksikan penampilan Nabilla Kurnia Adzan dan Ayu Permata Sari dalam penampilan tari berjudul “Ekam Jamo Sekam”. Dua sosok yang mewakili karakter Lampung dan tubuh perempuan itu menjadi aksen dalam panggung minimalis Loka Festival of Contemporary Arts 2017. Ayu yang menjadi koreografer kelompok Ayu Permata Dance Company menyajikan narasi kesadaran dalam karya pertunjukannya. Pada suatu titik, pemahaman tentang diri digabungkan dengan latar belakang lingkungan, alam, dan budaya Lampung menjadi fondasi sejarah tubuh perempuan.

Selain Ayu Permata Dance Company, masih ada tujuh penampil lain dalam rangkaian pertunjukan Loka Festival of Contemporary Arts 2017. Salah satunya adalah Scholastica Wahyu Pribadi, sang penggagas festival, yang menampilkan karya tari berjudul “Feeling”. Penampilan solo tersebut merupakan ekspresi Tika dalam menerjemahkan rasa cinta ke dalam koreografi tari.

Loka_Contemporary_1

“Feeling” oleh Scholastica Wahyu Pribadi

Festival berlangsung pada 24-25 Juli 2017 di Balai Desa Kepek, Wonosari, Gunungkidul. Hari pertama diisi dengan pelatihan ‘body movement’ oleh Ayu Permata Dance Company dan ‘body connection’ oleh Para Pemburu Panggung. Malam harinya berlangsung sarasehan oleh pemateri Nia Agustina (Kurator Tari Paradance Festival Indonesia), Mila Rosinta (Koreografer Mila Art Dance Indonesia), dan Una Lupo (Mahasiswa Basel School of Design Swedia). Seluruh pertunjukan tari berlangsung pada Selasa, 25 Juli 2017. Selain itu, Loka Festival of Contemporary Arts 2017 juga menyajikan pameran seni rupa kontemporer termasuk desain busana karya Una Lupo.

A girl under the blinding lights of Wonosari (Una Lupo)

Loka Art Studio, dengan dibantu warga setempat, menjadi penyelenggara kegiatan seni kontemporer yang pertama diadakan di Wonosari ini. Festival bertema “Between the Time and Between the Place” ini bertujuan memfasilitasi anak muda supaya aktif dan inovatif dalam menciptakan karya baru. Kegiatan ini juga menjadi ajang dialog, berbagi pengalaman, dan saling menginspirasi para pelaku pertunjukan seni kontemporer non klasik/pakem.

Contemporary Arts Workshop

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Apa yang Kubicarakan Ketika Aku Berbicara Tentang Bersepeda

This slideshow requires JavaScript.

Saya bersepeda untuk berpartisipasi dalam mengatasi pemanasan global. Itu yang saya pikirkan, beberapa tahun yang lalu. Sayangnya, meski sudah bersemangat membara memperjuangkan lingkungan saya tidak berkesempatan untuk memiliki sepeda sendiri.

Dulu, di era rasionalisme, saya mencari alasan-alasan untuk melakukan sesuatu. Banyak alasan berasal dari luar diri. Misalnya, saya berbuat baik karena ingin semua orang melakukan hal baik pada saya. Seiring perkembangan zaman, yang saya jadikan alasan tidak selalu sesuai dengan yang dibayangkan. Lalu, saya berhenti mencari alasan.

Seperti modernitas, pada masanya akan mencapai post-modern. Demikian juga aktivisme. Saat ini saya memasuki tingkatan post-activism. Saya tidak lagi memperjuangkan hal-hal yang ada di luar sana. Tapi bukan berarti saya menjadi pesimis.

Saya berusaha “expect the right thing.” Berekspektasi yang diikuti “act of creation”. Memusatkan tindakan atas dasar kemampuan diri untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Karena saya mampu, maka saya lakukan. Tentu saja untuk hal-hal yang sudah dipikirkan dampak baiknya. Dalam pengalaman saya, ternyata penting untuk memberi ruang pada hal-hal tak terpikirkan yang akan terjadi. Tetap berharap, tapi tidak takut kecewa.

Sekarang, saya bersepeda untuk meningkatkan kualitas fisik. Sesederhana itu ekspektasi saya. Hampir setiap hari, bisa dibilang, saya berkeliling Kota Jogja dengan bersepeda. Keluar rumah pagi hari, sampai di rumah lagi sudah malam. Tidak ada perubahan aktivitas saya antara sebelum dan saat bersepeda. Saya tetap menemui teman-teman di mana saja dan “nongkrong” hingga jam 2 malam meskipun pulang dengan bersepeda.

Di saat dunia semakin laju, saya melambat. Sepuluh tahun yang lalu saya belum bersepeda, tetapi pernah punya ide tentang bersepeda, “melambat berarti melihat lebih banyak.” Dengan melihat lebih banyak, saya memiliki ruang berpikir lebih luas. Saat bersepeda menjadi masa kontemplasi yang sangat saya nikmati.

Dalam dua minggu bersepeda ini, banyak hal-hal personal yang saya capai. Itu semua jadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Melihat lebih banyak, tahu lebih banyak, melakukan lebih banyak. See better, know better, do better.

+=+

Selasa pagi (18/7) saya bersepeda melewati Jl. Monjali. Keluar dari Pogung, saya mengayuh ke utara yang sedikit menanjak. Saat itu saya sudah bersepeda selama 40 menit perjalanan dari rumah. Perempatan sudah dekat, tapi lampu lalu lintas warna hijau belum lama padam. Saya lambatkan pergerakan, supaya kayuhan tidak berhenti hingga tiba di perempatan dan lampu lalu lintas menyala hijau lagi.

Saat melambat, saya mengamati cara tunanetra melihat. Di bagian depan sebuah bengkel, seorang lanjut usia duduk di kursi. Ia memegang selembar koran tinggi-tinggi dengan tangan kiri. Tangan kanan memegang senter dan mengarahkan cahayanya ke satu bagian yang sedang dibaca. Posisi senter berada di sebelah telinga kanan, sedikit lebih jauh daripada jarak mata dengan permukaan koran yang hanya 5 cm.

Sembari berlalu, mata saya terpaku pada pemandangan yang mengundang banyak ingatan. Tujuh tahun lalu, saya sering berinteraksi dengan tuna netra. Bahkan menonton mereka bermain bola dan menyaksikan siaran piala dunia 2010. Membaca pun bukan hal mustahil bagi mereka.

Saya ingat bahwa setiap tanggal 17 kita bisa mengirim buku ke Papua, tanpa biaya. Bulan ini sudah satu kardus buku terkirim ke Distrik Kais. Tapi saya lupa untuk menulis dan mengunggah perkembangan pembentukan kelompok pengelola rumah baca di sana, tempat saya melakukan penelitian tahun ini. Saya lupa karena pagi itu sedang bersemangat menulis, dan sedang menuju tempat nyaman untuk melakukannya. Ketika bersemangat, isi kepala penuh dengan hal-hal yang membuat saya bersemangat itu. Kondisi ini mengalihkan hal-hal lain yang kadang merupakan kewajiban. Ah…

Malam harinya saya diajak mencoba kafe baru yang ada di Jl. Sulawesi. Di tempat bernama Saorsa (freedom, Scottish) menemukan The Book of Forbidden Feelings karya Lala Bohang yang semakin meyakinkan diri tentang apa yang ingin saya tulis. Di awal buku tertulis kutipan serupa perkataan Anais Nin–yang menuliskan hal-hal yang tidak terungkapkan.

“Isn’t it strange that we talk least about things we think about the most?” (Charles Lindbergh)

+=+
Dunia ini banyak menuntut. Tak ada yang lebih diusahakan daripada kebebasan. Tapi apakah kebebasan itu? Banyak yang meyakini bahwa bebas berarti ketiadaan batas. Saking bebasnya mendefinisikan kebebasan, sebagian orang terjun bebas dalam dunia tanpa batas.

Yasraf Amir Piliang menyampaikan bahwa di era posmodern, banyak orang sibuk melakukan dekonstruksi konsep-konsep yang megekang hasrat manusia. Hasilnya adalah konsep-konsep yang campur aduk, atau jika saya meminjam istilah yang dipakai kekasih saya yang dulu (post-relation, tsaah), campur ancur. Kegetolan melakukan dekonstruksi menyebabkan orang lupa merekonstruksi.

Bagi saya, kebebasan adalah kendali diri untuk menentukan batas-batas sesuai dengan nilai-nilai tertentu. “Apalah yang terlalu harus di dunia ini?,” kata seorang perempuan yang saya kagumi.

Bersepeda menjadikanku mengenali batas-batas baru, membantu menemukan rasa yang hilang di dunia yang megagungkan rasionalitas. Dunia yang mengharuskan semuanya serba terukur–cepat, murah, dan banyak. The world I don’t belong to.

Saat bersepeda saya menjadi lebih tenang, terhindar dari fluktuasi kecepatan yang sering datang tiba-tiba. Gas pol, rem pol. Pergerakan saya lebih konstan, mengimbangi kemampuan impulsif saya yang kadang keterlaluan.

Saya terbebas dari otoritas polisi tidur yang dibuat semena-mena oleh “akamsi” (anak kampung sini). Kutemukan cara untuk tidak perlu mengurangi kecepatan ketika melewati polisi tidur, tetap santun, tapi juga tidak berpotensi merusak kendaraan.

Kurasakan seluruh tubuh, di saat bersamaan mengasah logika dalam melakukan analisa. Saya merancang rute perjalanan dengan tingkat polusi lebih rendah. Saya jadi mengenal gang-gang yang jarang dilalui. Menemui adegan-adegan yang menyentuh nurani. Menghadapi situasi yang melatih intuisi. Saya merasakan elevasi jalan raya yang menyiksa otot paha tapi juga membuat saya bijaksana mengelola kecepatan pergerakan.

Bersepeda membuatku merasakan kebebasan hidup. Menentukan batas-batas mungkin melelahkan, tapi saya ingat perkataan Wilee, seorang ‘bike messenger‘, dalam film Premium Rush (2012): “Can’t stop. Don’t want to either.”

Papua di Depan Mata

Tulisan ini telah tayang di serunai.co

This slideshow requires JavaScript.

Banyak sekali gambaran tentang Papua yang tertanam di pikiran masyarakat. Sebagian terbukti kebenarannya karena melibatkan banyak sumber terpercaya. Namun, tidak sedikit juga yang menuntun masyarakat pada prasangka. Gambaran buruk yang tak bisa ditelusur asalnya sangat mudah tersebar lalu tersamar. Setelah menjalani kehidupan sehari-hari bersama masyarakat pedalaman Papua, saya mencoba menyajikan nilai-nilai budaya yang sejak lama mengakar.

***

“Citra buruk tentang Papua tidak hanya tertanam pada kita yang ada di Jawa. Bahkan di Papua, para pendatang juga memiliki bayangan buruk tentang orang Papua. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya, itu hanya seterotype saja. Ketika kami terjun ke lapangan, masuk ke pedalaman, berinteraksi dengan warga, mereka sangat baik. Mereka punya jiwa sosial yang tinggi,” kata Soni Mijaya, yang menghabiskan waktu lima bulan tinggal di Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua dalam program Patriot Energi.

Soni adalah salah satu rekan saya dalam program Patriot Energi dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun penempatan 2016. Berada dalam program itu merupakan pengalaman yang mencerahkan. Selama lima bulan, sejak Juli 2016 hingga Desember 2016, saya beserta Soni dan 117 kawan lainnya bertugas mendampingi masyarakat penerima bantuan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Kami menyaksikan kelompok masyarakat yang dimasukkan dalam golongan tertinggal, terpencil, dan terluar menikmati malam-malam terang dengan memanfaatkan listrik dari sumber daya terbarukan.

Selama pelatihan sebelum penempatan, kami dianjurkan untuk memakai “sepatu rakyat.” Maksudnya supaya kami yang sudah mengenyam kehidupan modern dan pendidikan tinggi ini tetap menjejak bumi. Bahwa dalam setiap milimeter kemajuan zaman yang kami nikmati, sebagian besar masyarakat Indonesia masih berada ribuan kilometer jauhnya di belakang sana. Maka, selama masa pendampingan, saya berusaha menjalani kehidupan layaknya orang Papua. Saya turut merasakan suka duka mereka yang tinggal di As, Distrik Aifat Barat, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat.

Sebelum keberangkatan pada Juli 2016, pengetahuan saya tentang Papua masih samar, sangat mungkin menuju gelap. Saya membaca Papua hanya dari berita, atau melihatnya dari layar kaca. Meski banyak pelajar Papua di daerah asal saya, Yogyakarta, sebelumnya saya masih enggan bertegur sapa dengan mereka.

Banyak pemikiran yang menghantui sejak sebelum bertolak dari ibukota. Saat itu, mesin pencari pun tak mampu meredakan rasa was-was saya. Sebagai Daerah Otonomi Baru, Kabupaten Maybrat belum banyak mendapat sorotan dan tidak banyak informasi tentang kondisi sosial masyarakatnya di dunia maya. Salah satu peristiwa yang banyak diulas media adalah pembakaran Kantor Bupati oleh warga. Selebihnya, citra satelit via Google Earth hanya menunjukkan warna hijau tua tanpa aksen terang penanda pemukiman, terutama di lokasi yang dibayangkan sebagai lokasi penempatan.

Prasangka demi prasangka terbersit dalam benak saya. Apakah mereka masih tinggal di pohon? Akankah mereka masih menjalani adat istiadat yang ketat? Sekasar apakah perilaku orang Papua yang akan saya temui? Bagaimana menghadapi orang Papua yang sedang mabuk? Apakah mereka masih sering berlarian membawa busur panah untuk bertahan dari serangan suku lain?

Dan saya masih ingat seorang kerabat yang bilang di Papua sulit makan dan mandi. “Hidup hanya sekali kok betah hidup susah di sana,” katanya.

Dengan segala hormat, menjalani kehidupan sehari-hari di Papua merupakan proses verifikasi terhadap banyak hal yang hanya pernah saya dengar.

Cerita tentang Papua hanya beberapa yang sering muncul di layar kaca. Berita tentang kerusuhan, kekerasan, dan beberapa sajian kehidupan tradisional menjurus primitif cenderung ditampilkan berulang-ulang. Bahkan tepat sebelum keberangkatan, pemberitaan tentang mahasiswa Papua di Yogyakarta begitu berlebihan. Seolah-olah mereka ini anggota kelompok teroris yang mengancam jiwa warga Yogyakarta sehingga polisi harus berjaga di depan asrama mahasiswa Papua. Jika begitu, bagaimana hati ini tidak dihinggapi gulana saat menginjakkan kaki di Bandara Domine Eduard Osok, Sorong?

Menurut Kamus Oxford, stereotype adalah “a widely held but fixed and oversimplyfied image or idea of a particular type of person or thing.” Sebuah citra atau ide tentang seseorang atau sesuatu, tertentu namun terlalu disederhanakan, yang dijunjung dan tersebar luas. Akibat dari penerimaan informasi yang tidak utuh dan dibiaskan pendapat-pendapat yang menyesatkan, masyarakat jadi terjebak stereotyping. Suatu penyamarataan citra keseluruhan—menekankan pada sebagian yang mewakili keseluruhan—menyebabkan munculnya sikap antipati pada masyarakat luas. Sementara itu, hal-hal negatif lebih mudah menyebar, menyebabkan citra nyata Papua semakin samar.

Berhati-hati supaya tidak menjadi korban stereotyping, saya tidak serta merta mengamini segala informasi yang ada. Meski berangkat dengan bekal informasi minim tentang lokasi penempatan, saya bersama lima orang rekan penempatan se-Kabupaten Maybrat tetap berpikir positif.

Sampai di Kumurkek, ibukota Kabupaten Maybrat, kami selaku tamu berusaha memohon izin Bupati. Karena Bupati sedang tidak berada di kantor, maka kami disambut oleh Sekda Agustinus Saa, pada Jumat, 22 Juli 2016. Mendengar tujuan kami ke Kampung Kokas, Kocuas, dan Bori, Agustinus menasehati kami untuk tidak masuk ke kampung dulu. Apalagi ke Kampung Bori yang warganya terkenal sebagai orang pemabuk. Belum lagi kondisi lingkungan yang tidak seperti di Jawa, Agustinus menyampaikan tentang potensi terkena malaria. Maka ia menyarankan kami untuk tinggal di Sorong hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Entah bagaimana menyebut kami, keras kepala atau memang ceroboh, tapi kami terus berusaha meyakinkan Sekda untuk mengijinkan kami masuk ke kampung. Hingga akhirnya kami berenam dititipkan pada Petrus Tenau, Sekretaris Dewan, yang tinggal di Kampung Kokas.

Masa-masa awal berada di tanah Papua, sebisa mungkin saya menjaga jarak dengan masyarakat. Saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk membatasi interaksi. Langkah pertama adalah melakukan pemetaan sosial hingga kami sepenuhnya yakin tentang kondisi sosial budaya masyarakat. Kami merasa perlu menggali informasi yang sebenarnya tentang pola hidup masyarakat di sana. Ini adalah langkah menjaga diri di tanah yang pertama kali kami jejaki. Fakta pertama yang kami temukan di Kabupaten Maybrat adalah sudah tidak banyak praktik kesukuan di sana. Jadi, bayangan tentang perang antarsuku segera pudar.

Hingga bulan-bulan berikutnya, kami menjalani kehidupan sehari-hari dengan aman. Ternyata beberapa ketakutan kami tidak terbukti. Kecuali dua kawan yang tinggal di Kampung Bori sempat mengalami kejadian yang menciutkan nyali. Pada suatu malam, rumah tinggal mereka didobrak dan seisi rumah diobrak-abrik oleh warga yang sedang mabuk. Karena warga bersenjatakan parang dan kapak, kedua kawan memilih pasang badan untuk menahan pintu kamar. Beruntung warga lainnya segera datang untuk mengevakuasi kawan saya. Setelah ditelusur, ternyata permasalahannya adalah antara warga yang mabuk dengan pemilik rumah. Dan si pendobrak tidak tahu jika rumah tersebut telah ditempati orang lain. Hari-hari selanjutnya, hubungan warga pemabuk dengan kawan saya biasa saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Selain peristiwa tersebut, tidak ada orang mabuk mengganggu saya dan Hapsari, rekan sepenempatan, yang tinggal di As. Saya sendiri beberapa kali berhadapan dengan warga yang sedang mabuk. Terpaksa harus saya tanggapi karena mereka mendatangi rumah tinggal. Tapi dari pengamatan saya, ditambah pendapat beberapa orang yang lama tinggal di Papua, mereka mabuk untuk meningkatkan nyali. Karena ketika dalam kondisi mabuk, mereka menyampaikan banyak pemikiran dengan banal—meskipun kadang juga berupa pemikiran yang konyol dan tidak penting. Uneg-uneg yang terpendam pun tersampaikan. Bahkan salah seorang warga As yang mabuk di akhir percakapan berkata, “Sa ini tau kusemeh (saya ini kakak laki-laki),” sambil menepuk dada lalu menjabat tangan saya. Saya pun hanya bisa tersenyum sambil mengacungkan jempol. Selanjutnya ia berlalu dengan tertib.

***

Sebenarnya tidak seluruh daerah di Papua memiliki budaya minum hingga mabuk. Warga mengenal minuman dari masyarakat pesisir. Masyarakat pegunungan mendapat pengetahuan mengolah air sadapan Enau—menjadi Sageru yang memabukkan—justru dari pendatang. Masyarakat tradisional di Pegunungan Arfak, beberapa jam perjalanan darat dari Maybrat atau Manokwari, bahkan jarang mabuk.

Di beberapa tempat, warga sudah merasa perlu memperbaiki perilaku terutama yang berkaitan dengan budaya mabuk. Dalam rapat warga yang membahas sanksi bagi pelanggan PLTS Kocuas, tibalah pada topik perilaku mabuk-mabukan warga. “Saya ini juga mabuk. Tapi kalau mabuk ya jangan merusak, di rumah saja,” kata Pius Basna meredam rasa khawatir saya tentang potensi merusak PLTS saat mabuk.

Lain lagi di kampung sebelah, Kampung Kokas. Setelah listrik dari PLTS bisa menerangi rumah warga di malam hari, intensitas mabuk-mabukan sedikit berkurang. Base camp pemabuk pun jadi sepi. Warga lebih sering menghabiskan waktu malam di rumah dan melakukan aktivitas selain minum-minum, misalnya nonton televisi dan bincang-bincang. Ada lagi cerita dari kawan yang ditempatkan di Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. Masyarakat di sana punya kebiasaan menjaga orang mabuk supaya tidak merusak. Jadi ketika ada seseorang ketahuan sedang minum hingga mabuk, warga lain akan datang untuk berjaga di sekitarnya, mencegah terjadinya tindakan yang merugikan orang lain.

Kesadaran seperti ini adalah pergeseran budaya yang sedikit lebih baik daripada mendengar perkataan “Orang Papua kaya tidur di selokan, orang miskin tidur di rumah.” Karena yang masih banyak terjadi adalah, orang-orang memiliki alokasi khusus dari pendapatannya untuk membeli minuman beralkohol. Jika ada orang Papua tertidur di jalanan, itu adalah orang yang teler setelah menghabiskan uangnya untuk membeli minuman.

Pemberlakuan Perda larangan peredaran minuman keras di berbagai kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat juga mendukung terciptanya kesadaran masyarakat untuk mengurangi kebiasaan mabuk-mabukan. Meskipun di Kabupaten Maybrat belum ada supermarket dan tempat hiburan malam, Perda nomor 7 tahun 2015 tentang Pengendalian Penjualan Minuman Keras sudah disosialisasikan dan akan diterapkan.

Beruntungnya bagi saya, warga As merupakan sekelompok masyarakat yang berniat membangun hidup tenteram. Sebagian warga As merupakan korban kerusuhan politik Pilkada 2011. Mereka memilih untuk menjalani kehidupan di tempat baru. Mereka pindah tempat tinggal dari Kampung Kokas ke As—wilayah yang menjadi lokasi Kampung Kocuas dan Kocuas Utara—yang berjarak 30 menit jalan kaki melewati hutan. Sejak itu, masyarakat saling mengingatkan dalam menanggapi dinamika hidup sehari-hari. Jika ada perilaku yang tidak mengenakkan, dua kepala kampung akan memberi pengumuman pagi-pagi sebelum warga beraktivitas. Kadang hanya berteriak di tengah kampung, atau memakai pengeras suara portabel. Isi pengumuman adalah mengingatkan kembali tujuan warga untuk hidup yang aman dan damai.

Orang Papua, khususnya warga As, senang jika apa yang mereka yakini, budaya atau politik, mendapat perhatian orang lain. Pada awalnya saya ingin tinggal bersama warga. Namun, perwakilan warga merasa keberatan jika kami berdua tinggal di rumah warga. Ternyata setelah ditelusuri, selain karena memang rumah yang terlalu padat (satu rumah bisa dihuni hingga lebih dari sepuluh orang termasuk anak-anak), warga juga merasa takut kenyamanan kami terganggu oleh anak-anak mereka yang, menurut warga, perilakunya terlalu “liar”.

Warga As menyadari jarak budaya mereka dengan kami sebagai pendatang. Itulah yang membuat mereka merasa tidak layak untuk menyajikan kehidupan sehari-harinya pada kami. Masyarakat As masih memiliki rasa malu tentang “kekurangan” dan “keterbatasan” mereka. Yang ini lebih menjurus pada rendah diri.

Warga As berpikir bahwa para pendatang, apalagi yang berasal dari kota macam kami, tidak menyukai masakan mereka. Pada awalnya mereka terkesan pelit karena tidak mau berbagi dengan pendatang, padahal mereka hanya merasa tidak pede dengan yang mereka miliki. Sementara itu, sesama orang Papua biasa keluar masuk rumah mana pun untuk ikut makan. Sepengetahuan mereka, orang Jawa selalu makan beras. Jadi mereka selalu ragu menawari makanan sehari-hari mereka yang seringnya umbi-umbian, hasil kebun dan hutan.

Suatu hari saat mengajar, saya tergoda untuk mencicipi keladi (umbi talas) bakar. Gara-gara murid saya di kelas 4 makan keladi bakar di kelas, dan saya pun sedang bosan makan nasi. “Ko masih ada keladi bakar kah di rumah? Sa minta satu, eh?” kata saya pada Jerlina Tenau.

Sebentar kemudian, dia kembali membawa satu keladi bakar yang masih hangat. Itu adalah keladi bakar pertama saya dan makanan ala Papua paling nikmat sejak tiba di As. Sejak saya bilang bahwa keladi bakar itu makanan paling enak, hampir setiap pagi atau sore hari ada saja warga yang mengantar keladi bakar ke rumah. Anak-anak As bilang saya “udik awiyah”, setara dengan “rakus makan keladi”. Tak jarang keladi bakar diantarkan bersama dengan sayur kangkung, gohi, hata, upah, bahkan daging kuskus.

Selanjutnya, segala makanan warga As sudah saya cicipi. Termasuk betatas (ubi jalar), sayur mis (daun pakis), buah Na (Buah Raja), hingga papeda dengan ikan kuah kuning, kasbi (singkong) rebus dengan daging rusa bumbu kecap atau kuah kuning. “Anak ini makan sembarang. Su jadi orang Papua. (Kamu ini makan apa saja. Sudah jadi orang Papua),” komentar Nene Frans pada saya sambil tersenyum. Nene adalah sebutan untuk nenek, atau perempuan Papua yang sudah tua.

Dalam kenikmatan keragaman pangan di Papua, dengan tanah yang subur dan hutan yang masih luas seharusnya orang Papua tidak akan pernah kelaparan. Jadi apa perlunya orang Papua bercocok tanam padi?

***

Jika ada yang pernah mendengar cerita tentang orang Papua yang malas, perlu ditelusuri hubungan sebab-akibatnya. Salah satu penyebab kemalasan itu adalah bantuan dari pemerintah atau pihak swasta yang cenderung memanjakan masyarakat Papua. Padahal di masa lalu, yang terpenting bagi orang Papua adalah bekerja keras dan mempertahankan harga diri.

Saat masih muda, orang-orang di Papua pasti pernah merasakan pukulan dari orang tua jika mereka malas bekerja. Di As, orang dewasa selalu punya kegiatan setiap hari. Berkebun, mencari kayu bakar atau berburu. Pembangunan jalan kampung melibatkan semua orang. Setiap kepala keluarga mendapat sebagian jalan yang harus diisi batu dan kerikil sebagai fondasi. Bagian jalan yang jadi kewajiban setiap kepala keluarga diberi batas patok bertuliskan nama. Saat gotong royong membangun jembatan, seluruh warga juga ikut turun tangan. Anak-anak dan perempuan pun ikut menyeret kayu gelondongan yang akan dijadikan landasan, juga mengangkat batu-batu kapur untuk pengaman.

Salah satu tabiat orang timur adalah kasar. Baku ribut, baku mulut, baku pukul, terjadi hampir setiap hari. Bahkan di beberapa tempat bisa terjadi seperti jadwal makan, yaitu pada pagi, siang, dan sore hari. Ada saja permasalahan yang jadi alasan untuk “bekelahi”, mulai dari hal sepele urusan kebun hingga hal serius berkaitan dengan pilihan calon bupati dalam pilkada. Sebagai orang gunung dan dikelilingi hutan, warga As terbiasa berteriak untuk berkomunikasi. Tindakan mereka itu semacam langkah menghemat energi untuk mendatangi orang ketika ingin berbicara.

Baku ribut pun juga bagian dari menyuarakan pemikiran. Semacam budaya penyaluran energi. “Mereka baku ribut begitu, sebentar juga menghambur lagi,” kata Paskalis Tenau, kepala sekolah di SD YPPK Kocuas, usai menyaksikan warga baku mulut masalah pilihan calon dalam pilkada. “Kalau dong diam, itu yang jahat betul,” tambahnya.

Jadi, bagi warga As baku ribut adalah salah satu mekanisme penyelesaian masalah. Kalau masih diam berarti masih memendam sesuatu. Bagi mereka itu hal yang tidak baik.

Meskipun sering baku ribut, warga As tidak terlihat saling bermusuhan. Bagaimana mau bermusuhan kalau sesama warga memiliki hubungan darah, pun tempat tinggal hanya bertetangga? Bayangkan jika mampu bertindak dan bicara keras tapi tidak melibatkan dendam, lalu kadang diakhiri dengan canda dan tawa. Iya, kadang saya juga salah tangkap dengan maksud pembicaraan warga As, antara marah atau bercanda. Tapi lama-lama juga bisa terbiasa menghadapinya.

Warga As masih terikat erat dengan hukum adat atau hamamus dan gereja. Setiap masalah sosial, pernikahan, dan kematian masih melibatkan biaya bersama, berupa uang dan kain merah atau kain timor. Karena kekerabatan masih kental, setiap permasalahan satu orang pasti akan diselesaikan satu keluarga besar. Pernah ada upacara kematian seorang anak bermarga Asmuruf. Ia meninggal di Sorong, tapi dimakamkan di Kampung Kokas. Biaya angkutan jenazah dan kerabat saja mencapai lebih dari Rp 20 juta. Belum lagi denda yang harus dibayarkan karena kematiannya dipicu oleh perkelahian sesama anggota keluarga. Namun, permasalahan tetap dibahas bersama dan denda adat ditanggung seluruh keluarga. Setiap kerabat yang datang melayat juga ikut menyumbang dana.

Untuk menyekolahkan satu anggota keluarga pun menjadi tanggungan seluruh keluarga besar. Dan bisa dibayangkan jika suatu pernikahan membutuhkan mahar Rp 50 juta dan puluhan gulung kain timor sebagai syarat adat. Sampai-sampai fenomena ini dijadikan lagu oleh anak muda di Maybrat. Semmy dan Ellia adalah salah satu musisi lokal di Kabupaten Maybrat yang mempopulerkan lagu berjudul “Bakit Maybrat”. Bakit berarti gadis. Salah satu penggalan liriknya adalah : “Bakit-bakit Maybrat cantik bodi bahaya // Bakit-bakit Maybrat sungguh makan biaya.” Menghadapi tuntutan seperti ini, warga masih menganggapnya sebagai kewajiban orang Papua, meskipun sebagian sudah ada yang merasa keberatan dengan adat yang demikian.

“Bagi orang Papua masalah satu orang pasti jadi masalah untuk semua. Kalo bisa, kawin pun kita campuri,” kata Paulus Sawiat pada suatu malam saat melayat. “Orang Papua bisa saja kaya jika ikut budaya orang Jawa yang mandiri. Semua diurus sendiri. Termasuk pendapatan yang jadi milik sendiri. Kalau orang Papua bisa begitu pasti kami akan mudah kaya. Tapi budaya kami yang terbelakang ini mengharuskan seperti itu,” tambahnya.

Orang Papua tidak bisa dianggap miskin. Mereka adalah pekerja keras dan mampu mencari uang. Tetapi karena masih menjunjung tinggi adat, uang yang mereka miliki tidak pernah tersimpan lama. Terutama karena ada kewajiban untuk menyumbang dan membantu sanak saudara. Rasa kekeluargaan orang Papua di Maybrat masih erat dan terpelihara dengan baik.

Di balik penampilan yang sangar, orang Papua menyimpan kelembutan. Di As dan sekitarnya, lelaki dewasa saling bergandeng tangan sebagai wujud saling percaya. Sambil berjalan di tengah kampung, atau dalam kegiatan bermasyarakat, mereka berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Saya pun beberapa kali melakukannya. Saat itu saya merasakan kedekatan dengan orang Papua, merasa sudah diterima sebagai keluarga di sana.

Meski terbiasa baku ribut, aktivitas peribadatan di gereja jadi ajang untuk mengingatkan warga tentang kebersamaan dan kasih sayang. “Tuhan sudah mengasihi kita, baru kita mengasihi siapa?” kata Nikolaus Basna saat menjadi pelayan gereja.

Usai ibadah juga dimanfaatkan warga untuk membicarakan rencana-rencana kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Bahkan hari ulang tahun warga pun disebutkan di awal ibadah, tak lupa juga mendoakannya. Forum-forum semacam inilah yang menjaga ketentraman di As.

Di depan mata saya, orang Papua berusaha keras memperbaiki kehidupannya. Selanjutnya, menyebarkan informasi yang sebenar-benarnya tentang Papua adalah tugas bersama.

Catatan “Singkat” untuk Regenerasi Petani Muda

logo warna print_small

Waktu berlalu cepat sekali. Sejak meninggalkan Jakarta pada Februari 2013, saya mulai menggali pengetahuan tentang pangan dan pertanian. Sempat terlibat inisiasi pembentukan Sekolah Tani Muda pada September 2014, lalu mulai merumuskan gagasan Jejaring Pangan Lokal pada Februari 2015. Tantangan demi tantangan muncul silih berganti, hingga membawa saya berlabuh di Rumah Belajar Lingkungan Ocean of Life Indonesia. Rumah OLI, kami menyebutnya, tempat saya belajar dan berkarya. Sementara ini, bidang pangan dan pertanian menjadi pusat perhatian dan penyaluran energi utama saya. Banyak permasalahan sistemik yang dihadapi masyarakat. Menyelesaikan satu permasalahan dengan tetap memperhatikan keterhubungannya dengan permasalahan lainnya adalah tantangan tersendiri. But, it’s all worth trying for.

Mendorong terciptanya generasi petani muda sungguh tidak mudah. Banyak pilihan dan tantangan yang harus disikapi dengan bijak. Tidak ada harapan yang terlalu tinggi, tetapi setiap orang bisa mempertimbangkan jalan tengah dalam menyikapi pilihan-pilihan ekstrim. “Moral virtue lying at the mean between extremes of excess and deficiency,” kata Aristoteles dalam Nicomachean Ethics.

Ketika memutuskan untuk menjadi petani, sebuah jalan panjang akan dilalui pemuda dan ganjalan pertama muncul bahkan (mungkin) sebelum keluar dari halaman depan rumahnya. Berharap lahirnya generasi petani muda, padahal tantangan terbesar adalah mengubah pemahaman keluarga tentang pilihan petani sebagai profesi. Sebagian petani yang mengalami tekanan di dalam sistem pangan konvensional tidak menginginkan keturunannya meneruskan jejaknya sebagai petani. Bertani selalu disertai tantangan berat, pekerjaan kasar, dan tidak menguntungkan dari sisi keuangan, adalah anggapan umum masyarakat yang sudah bertani turun temurun. Khususnya bagi mereka yang telah puluhan tahun mengikuti skema revolusi hijau yang dicetuskan pada masa Orde Baru.

Degradasi lahan adalah konsekuensi atas penggunaan pupuk kimia berlebihan pada pertanian monokultur. Menurunnya produktivitas adalah dampak lanjutannya. Sementara semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat modern, dominasi tengkulak masih menekan keuntungan petani. Tingginya laju investasi memicu tingginya laju alih fungsi lahan. Menjual lahan pertanian yang tidak lagi produktif adalah pilihan ekonomis. Demikian pula alih fungsi lahan untuk kepentingan bisnis (tempat perbelanjaan, bandara, pembangkit listrik, dll.). Laju alih fungsi lahan pertanian untuk perumahan semakin susah dibendung.

Lahan pertanian yang semakin berkurang, padahal akselerasi pertambahan populasi manusia juga tidak mungkin ditahan. Indonesia sudah kehilangan 5 juta rumah tangga petani dalam kurun waktu 10 tahun (2003-2013, BPS). Tingginya harga pangan dan/atau krisis pangan menjadi ancaman serius. Regenerasi petani adalah harapan yang terlampau serius jika tidak ada sistem pendukung terciptanya regenerasi petani.

Dalam kacamata pribadi saya, regenerasi petani adalah harapan yang terlampau berat jika dibebankan bagi pemuda saja. Sementara pemuda masih dibebani harapan-harapan keluarga tentang hidup mandiri, khususnya secara finansial. Salah kaprah pun terjadi ketika mandiri diartikan bertahan dan berkecukupan sendiri-sendiri. Pil pahit yang harus ditelan para pemuda ketika berusaha menghidupi idealisme dan cita-cita anak muda sekaligus menyikapi harapan keluarga dan realitas di luar sana. Menciptakan jalan tengah tidak bisa secepat memilih jalan mudah.

KEMPAL_Jejaring-Pangan

Sesi kolaborasi ide para peserta KEMPAL

 

JIPANG, Perkumpulan Indonesia Berseru, dan Ocean of Life Indonesia menyelenggarakan Kemah Pangan Lokal (KEMPAL) pada 26-27 September 2015. Kegiatan menyambut Hari Tani yang jatuh pada 24 September tersebut mengambil tema regenerasi petani muda. Selama dua hari penuh, sebanyak 25 pemuda dari berbagai latar berkumpul di Rumah Belajar Lingkungan Ocean of Life Indonesia, Pantai Watu Kodok, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul. KEMPAL menjadi ajang pertukaran ide, peningkatan kapasitas pengetahuan tentang pangan dan pertanian, dan diarahkan untuk menciptakan kolaborasi antar anak muda.

Mengapa kolaborasi? Karena populasi manusia semakin tinggi, sementara luasan bumi tidak bertambah. Dengan hidup dalam kebersamaan, setiap orang bisa berbagi peran dan ruang.

Latar belakang peserta yang bermacam-macam menjadikan kolaborasi ide yang sangat kaya peran dan sudut pandang. Rancangan cita-cita bersama adalah perwujudan kedaulatan anak-anak muda yang memiliki tujuan kolektif untuk masa depan yang lebih baik. Dari satu ide personal bisa menjelma sebagai ruang berkarya kolektif, pertanian terintegrasi, usaha bersama, kampanye banyak lini, festival pangan dan pertanian, koperasi, ecovillage, bahkan negara kecil.

Mengapa tidak semuanya bercita-cita menjadi petani? Atas nama modernitas, pemenuhan aktualisasi diri adalah pencapaian tertinggi. Setiap orang memiliki cita-cita yang berbeda, namun masing-masing bisa mencapai kesadaran yang sama. Bahwa pangan adalah kebutuhan yang paling dasar untuk bertahan hidup. Dengan berkolaborasi, setiap pemuda bisa mewujudkan cita-cita bersama. Dalam dunia yang semakin padat, mandiri bukan bertahan sendiri-sendiri. “Earth provides enough to satisfy every man’s needs, but not every man’s greed,” kata Mahatma Gandhi. Ketika populasi manusia mencapai 9,3 miliar pada 2050[1], pilihan bijaknya adalah membatasi konsumsi, memperbanyak berbagi.

KEMPAL menjadi ajang berlatih bagi pemuda untuk menciptakan masa depan yang lebih berkeadilan untuk semua. Selain sejumlah petani muda, peserta KEMPAL lainnya berlatar belakang pendidikan psikologi, komunikasi, kehutanan, ibu rumah tangga, pengajar, dll. Tidak harus semuanya menjadi petani, tetapi setidaknya setiap pemuda perlu mengenal dan berinteraksi dengan petani. Sehingga masing-masing bisa menghargai petani, proses bercocok tanam dan saling mendukung terciptanya sistem pangan yang berlandaskan kedaulatan pangan. Di mana menurut La Via Campesina[2], sebuah gerakan petani internasional, kedaulatan pangan adalah hak atas pangan yang sehat dan berbudaya, yang dihasilkan melalui metode-metode yang berkelanjutan, termasuk hak untuk menentukan pangan serta sistem pertanian masing-masing.

Berbeda dengan konsep ketahanan pangan yang memastikan setiap orang cukup makan, kedaulatan pangan berusaha mengembalikan kemampuan produsen dan konsumen pangan untuk berperan aktif dalam sistem pangan dan pertanian. Dalam kerangka kedaulatan pangan inilah, petani diakui sebagai bagian integral dari komunitas. Berjejaring dengan berbagai latar belakang profesi adalah salah satu pilihan strategis dengan tetap idealis dan mandiri, baik untuk petani ataupun non-petani.

Di tengah arus industri yang begitu masif dan sistematis, perubahan tidak bisa diciptakan secara instan. Membangun kesadaran pangan adalah proses yang panjang. Menciptakan sistem pendukung perubahan adalah langkah pertama menjamin keberlanjutan. Dengan adanya sistem pendukung yang memadai, regenerasi petani (bahkan) bisa terwujud secara alami. Sistem pendukung ini menuntut sinergi antara petani, akademisi, pemerintah, dan terutama masyarakat umum.

Jejaring Pangan Lokal merupakan sistem pangan alternatif yang mencoba meletakkan landasan hidup berkeberlanjutan dalam kerangka kedaulatan pangan. Kolaborasi ala KEMPAL adalah embrio jalan tengah manusia yang berorientasi jangka panjang demi terciptanya (kembali) keseimbangan alam. Mengutip semangat para ekofeminis dalam A Declaration of Interdependency[3], bahwa setiap manusia seharusnya saling terhubung. Umat manusia adalah jalinan benang-benang kehidupan yang saling terkait. Apapun yang kita lakukan pada benang-benang tersebut, kita melakukannya pada diri kita sendiri.

[1] Canwefeedtheworld.org

[2] What Is La Via Campesina : The international peasant’s voice http://viacampesina.org/en/index.php/organisation-mainmenu-44/what-is-la-via-campesina-mainmenu-45

[3] “Melihat arah perkembangan kehidupan manusia, adalah semakin mendesak untuk menciptakan hubungan baru antar manusia di bumi, yang dapat menghubungkan satu sama lain, dan mengemban kewajiban bersama-sama di bawah hukum-hukum alam dengan menghormati kesejahteraan umat manusia dan seluruh kehidupan di bumi. Kita perlu memproklamirkan keterikatan kita bahwa umat manusia belum merajut benang-benang kehidupan; kita sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah salah satu benang di dalamnya. Apapun yang kita lakukan pada benang-benang tersebut, kita melakukannya pada diri kita sendiri.” A Declaration of Interdependence, Jurnal Perempuan Edisi 80, Vol. 19, no. 1, Februari 2014, hal. 169.

Menyalakan Asa di Sumba

This slideshow requires JavaScript.

 

Berawal pada 2011, Hivos bersama sejumlah lembaga pemerintah maupun non-pemerintah mengambil inisiatif untuk menjalankan program ambisius di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Dalam tajuk “Sumba Iconic Island”, Hivos bermaksud menjadikan Sumba sepenuhnya memanfaatkan listrik dari sumber energi terbarukan. Kerjasama berbagai pihak ini bermaksud menjadikan Sumba sebagai percontohan pemanfaatan energi bersih untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Untuk mendukung perwujudan energi bersih di Sumba, Hivos menggandeng berbagai organisasi lokal maupun internasional, swasta maupun pemerintah berbagai negara. Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Perusahaan Listrik Negara (PLN), Bank BNI, IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), merupakan lembaga nasional yang berkontribusi pada proyek ini. Sedentary itu, Asian Development Bank, Kementrian Luar Negeri Norwegia, dan SNV (Stichting Nederlandse Vrijwilligers) adalah organisasi internasional yang terlibat kerjasama dengan Hivos.

Target “Sumba Iconic Island” adalah 95% rasio elektrifikasi Pulau Sumba (jumlah rumah tangga yang telah beralih menggunakan energi listrik) dengan 100% energi listrik berasal dari sumber terbarukan pada 2023. Sudah bukan rahasia lagi jika jaringan listrik konvensional memiliki keterbatasan jangkauan. Pun energi listrik yang disalurkan kebanyakan pembangkit listrik berasal dari pembakaran batubara, yang notabene menjadi aktivitas penghasil gas rumah kaca yang utama. Demikianlah korelasi konsumsi listrik konvensional dengan perubahan iklim.

Pada 2008, Nusa Tenggara Timur memiliki rasio elektrifikasi terendah se-Indonesia, yaitu 24,55%. Kenyataannya, sebagian besar masyarakat di pelosok Sumba masih bergantung pada minyak tanah untuk penerangan dan kayu bakar untuk memasak. Hal ini kurang lebih berkontribusi sama terhadap pemanasan global, yakni dalam hal produksi CO2 (gas rumah kaca).

Rasio elektrifikasi terendah se-Indonesia bukan satu-satunya faktor yang membuat Sumba terpilih untuk dijadikan daerah percontohan energi terbarukan. Kemudahan akses untuk mendatangkan teknologi energi terbarukan juga dipertimbangkan. “Sumba dipilih karena infrastruktur seperti bandara dan jalan sudah ada untuk mengangkut peralatan pembangkit listrik,” kata Dewi Suciati, staf komunikasi Hivos.

Infrastruktur energi terbarukan yang sudah dibangun di Sumba selama berlangsungnya program “Sumba Iconic Island” meliputi panel surya, turbin angin, digester biogas, dan pembangkit listrik mikro hidro. Seluruhnya difungsikan untuk memproduksi listrik dalam skala lokal. Sejak dimulainya program ini jumlah rumah tangga yang beralih menjadi pengguna listrik meningkat dari 22,55 % menjadi 40%.

Selain mampu menghasilkan energi listrik dan bahan bakar memasak, proses produksi biogas juga menyisakan residu berupa pupuk organik. Teknologi digester biogas terbukti mampu mengubah kotoran ternak menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Keluarga yang memanfaatkan biogas terbukti mampu meningkatkan produksi pertaniannya hingga 100%.
Setelah sukses memberdayakan ribuan keluarga di seluruh dunia melalui pembangunan teknologi biogas, tahun 2014 ini Hivos melanjutkan pembangunan instalasi energi terbarukan di Sumba. Sejumlah proyek pembangunan energi terbarukan yang sedang berlangsung maupun yang telah memberi manfaat bagi masyarakat mulai dipromosikan. Salah satu program untuk mempromosikan “Sumba Iconic Island” adalah Ekspedisi Sumba.

Di tahun ketiga penyelenggaraan Ekspedisi Sumba, empat orang Belanda dan empat orang Indonesia terpilih untuk menjelajahi Sumba selama seminggu. Saya termasuk salah satu warga Indonesia yang termasuk dalam tim Ekspedisi Sumba 2014. Selain singgah di situs-situs energi terbarukan, kami juga berinteraksi dengan budaya asli masyarakat pelosok Sumba.

Cerita dari Sumba

Ekspedisi Sumba adalah perjalanan mengumpulkan cerita dari warga di pelosok Sumba tentang keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup. Sumba, tanah yang menjadi saksi bahwa waktu seakan berhenti, seolah sentuhan kemajuan masyarakat luar daerah (termasuk pemerintah) hampir tak terlihat jejaknya. Selama awal September 2014, kami menjelajahi segala lanskap yang menjadi ikon Sumba. Saya pun berkesempatan menambah perbendaharaan kekayaan budaya Indonesia dan berkesempatan untuk membagi cerita.

Ekspedisi Sumba membuka mata saya, bahwa setiap warga negara Indonesia berhak untuk maju dan menentukan nasib sendiri. Bahwa kedaulatan energi, yaitu kebebasan untuk memilih energi yang berdampak positif terhadap lingkungan, bisa saja muncul di tempat yang tidak pernah saya impikan untuk menjelajahinya.

Cerita tentang Uma Pege (Rumah Pintar) di Kandau Tana, Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya, membuat saya terharu. Pater Mikael Molankerafessi (46) bercerita tentang Herman, si pencuri lihai yang bertaubat. Herman yang dulunya menjadi ancaman bagi masyarakat, saat ini justru menjadi penyumbang utama bagi setiap kegiatan kemasyarakatan. “Aku suka melihat perkembangan perubahan di mata mereka,” kata Pater Mike yang berbangga terhadap perubahan dalam masyarakat di Kandau Tana.

Perubahan ini diawali dengan pembangunan Uma Pege, yang menjadi simbol perubahan dari kebiasaan mencuri menuju aktivitas masyarakat pengrajin (tenun, ukir, dsb.) dan berkebun. “Sejak 2011, Uma Pege menjadi rumah kelompok tempat mendiskusikan cara hidup yang baik. Memintarkan orang yang bodoh, pencuri, pemalas, dan penjudi,” kata Andreas Radukaka, Ketua Kelompok Tani. Andreas pula yang bersemangat untuk bisa memanfaatkan teknologi biogas untuk mendukung kegiatan berkebunnya. Bio slurry merupakan cairan residu proses produksi biogas yang begitu diidamkannya. Disamping itu, ia pun berharap biogas mampu mengubah cara masak warga menjadi lebih ramah lingkungan dan tidak perlu lagi membakar kayu.

Cerita berikutnya adalah tentang pertanian terpadu yang didukung teknologi biogas sebagai penghasil pupuk. Lainnya, teknologi solar cell telah mengalirkan air ke lahan pertanian.

Sebagian besar wilayah Sumba merupakan daerah kering dengan kontur perbukitan kapur. Lahan kering dan curah hujan minim membuat masyarakat kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian. Sebagian besar warga bercocok tanam sebagai kegiatan sampingan saja. Demikian pula di Lewa, Sumba Timur.

Di Sumba, inovasi teknologi menjadi penting untuk memicu inisiatif warga di bidang pertanian. Cerita petani Sumba yang sukses diwakili oleh Made Raspita dari Lewa. Beliau sudah menuai kesuburan lahan pertanian dan nilai ekonomis biogas selama 2 tahun. Dengan adanya bantuan panel surya, lahan pertanian yang kering pun berhasil dialiri air dari sumber terdekat, yaitu Patama Kondamara Wai. Ketersediaan air dan pemanfaatan pupuk organik, terutama bio slurry, mewujudkan pertanian terpadu yang mampu menghidupi masyarakat.

Cerita terakhir adalah dari Laimbonga, desa yang dikelilingi perbukitan di tengah-tengah Sumba Timur. Perjalanan 4 jam berangkat serta 4 jam pulang ke Waingapu menjadi ikon selama Ekspedisi Sumba. Mobil double cabin menembus belukar dan menghajar pegunungan kapur di pelosok Sumba. Dua kali pecah ban menjadi bukti ganasnya medan petualangan kami. Petualangan yang mematahkan segala ekspektasi tentang kemungkinan kemajuan di pelosok. Bahwa ternyata rasa kekeluargaan begitu kental dalam tubuh masyarakat Laimbonga. Umbu Hamanay, tokoh utama (raja) di Kadumbul, begitu memuliakan tamu. Didukung warga dari desa-desa sekeliling, warga Laimbonga menyajikan keramahan khas Indonesia.

Rambu Dyhaledy (28), putri Raja Kadumbul, belajar Biologi Lingkungan dari salah satu universitas swasta di Yogyakarta, lalu kembali untuk membangun kampung halamannya. Pengetahuan yang didapat dari dunia luar diselaraskan dengan cara hidup masyarakat Laimbonga. Rambu memperjuangkan keinginan warganya untuk membangun biogas sebagai penyelaras cara beternak sapi, kuda, dan babi, dengan lingkungan sekitar.

Global knowledge dan grassroot experience, perpaduan yang semakin langka ditemui, justru diterapkan Rambu. Pengetahuan baru ia tularkan pada masyarakat daerah dengan tetap mempertahankan kearifan lokal. “Saya ingin tinggal di desa dan maju bersama masyarakat,” kata Rambu. Kemajuan Laimbonga ditandai dengan beroperasinya pembangkit listrik tenaga mikro hidro, yang sudah memasuki tahap akhir pembangunan saat kunjungan tim Ekspedisi Sumba. Setelah listrik masuk ke desa Rambu berharap dapat meningkatkan aktivitas warga, terutama kegiatan belajar anak-anak.

Cerita-cerita selama Ekspedisi Sumba menjadi pemantik harapan tentang kemajuan masyarakat pelosok, yang lebih sering terlupakan. Harapan bahwa kemajuan masih bisa dicapai dalam keterbatasan. Dengan kepedulian pihak-pihak yang berkemampuan, pemerataan pembangunan bukan lagi impian. Untuk itu, Ekspedisi Sumba menjadi salah satu kegiatan untuk menjangkau mereka yang memiliki kepedulian pada keterbatasan masyarakat Sumba.

Sekembalinya dari Sumba, para anggota ekspedisi merancang program crowdfunding (menghimpun dana publik) untuk membantu percepatan pembangunan sejumlah digester biogas di Sumba. Untuk program crowdfunding tim Belanda bisa dilihat di sini dan program crowdfunding tim Indonesia di sini.

Keterlibatan masyarakat luas dalam memajukan Sumba menjadi titik berat program crowdfunding peserta Ekspedisi Sumba. Aksi ini bisa mempersempit jurang ketimpangan kemajuan antara pusat dan daerah.

Memeratakan pembangunan bukan hanya kewajiban pemerintah saja. Jika kita mampu berperan, kenapa tidak? Kemajuan masyarakat daerah dapat dimulai dengan menegakkan kedaulatan energi. Kemandirian energi serta kebebasan untuk memilih dan berpihak pada energi bersih adalah hak setiap warga negara.

(Hermitianta Prasetya)

Sound For Orangutan Live-Tweeting

This slideshow requires JavaScript.

On September 30, I was live-reporting a music charity event organized by Centre for Orangutan Protection (COP). The multi-genre music concert called as Sound for Orangutan, aimed to raise fund, as well as spreading awareness and spirit, to save the orangutans, Indonesian’s endemic primate. For the very first time I was practising near-realtime-reporting using Twitter as a media, usually called as live-tweeting. Here’s some of the pictures I took during live-tweeting experience using a Samsung Galaxy Note smartphone.

Twitter : @sound4orangutan
Web : http://sound4orangutan.com/

Image Hosted by ImageShack.us

The role of new media, the internet, becomes more significant day by day. Everyone put everything in there. And photos have been flooding every web pages for private to public needs, from non-profit activity to any commercial promotions. A photo could be simple and attractive to convey messages.

Since the acceleration of internet usage has been increasing rapidly, the internet becomes a massive source of information. Including news. And the technology brought news to its compact and quick-to-read form. A news flash. Everyone can witness how news is flashing so fast on twitter timeline via mobile phones, almost everywhere.

The basic role of every visual medium is to make people stop seeing, to stare at a specific scene, whether it is important or simply entertaining. To grab attention so that people intentionally eager to read further messages, implicitly or explicitly. Every photographers need to learn how to make his work compact, simple and interesting, if he is to go into news flash timeline.

Mobile phones photography has been handy in answering those need. Photography application for mobile phones, such as instagram, give assistance to make photographing activity a lot easier. Photography can be done anywhere, even in areas that SLR cameras are restricted. Nowadays, going low doesn’t really mean becoming amateur. But mastering small gadget with hi-tech capabilities is a must. Taking picture is as easy as uploading images to get into news flash timeline, right from the spot. Then we’re photographers adapting to technology revolution.

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Toward Energy-Independent Community

This slideshow requires JavaScript.

Renewable energy is to be one of future power supply solutions. Various power plants that convert energy provided by the nature will not be depleted and considered as environmentally friendly.

Wind-powered electricity generator and solar panels was built by the Indonesian Ministry of Research and Technology in Southern coastal of Bantul, Yogyakarta in June 2010. Precisely at New Pandansimo Beach, Ngentak Village, Subdistrict Poncosari, Srandakan District, Bantul Region, Yogyakarta Province. And starting in March 2011, all functions of the power plant has been running well, although not yet giving maximum output.

Image

With technical assistance from the National Aeronautics and Space Institute (LAPAN) working with local communities, 33 wind turbines and 170 solar panels had been operated. The whole system is capable of generating electrical power by 77 kW.

With the support of local government and the University of Gadjah Mada, Pandansimo hybrid power plant is claimed to be the largest in Indonesia used for tourism sector, agriculture, and fisheries, that developed by the community.

Most of the electrical energy generated is used for the production of ice cubes. Coastal community living as fishermen utilize ice to store fresh fish. As for farmers, electricity is used to power up water pumps for irrigation in their farm field, mostly on the sand. Prawn farmers need 24 hours electricity to power up the blower in the shrimp ponds. Freshwater fisheries also use electricity for water circulation.

Image

Wind and Solar Energy Conversion Systems (SKEAS) in Ngentak Village is expected to be a pilot project for the Rural Energy Independent Community. The electricity utilizing renewable energy works to support community-based economic development. It also aims to enhance community perspective on the role of science and technology in modern life.

Indonesia, which consist of islands unarguably have unlimited wind resources that are not restricted along the shoreline. Year-round sunshine could potentially converted into electrical energy that seemed not to expire. Renewable energy is becoming the most promising electricity solution in the midst of fossil-fuel-based energy controversy. As we know that coal powered power plants tend to pollute the environment. On the other side Nuclear Power Plant, though considered as environmentally friendly and produce great output, still elicited rejections from most of the world community.

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image

Image